Pura Dang Khayangan Cagar Budaya Pengukur-ukuran

Pura Dang Khayangan

Cagar Budaya Pengukur-ukuran

Sejarah Pura Dang Khayangan

Temukan warisan yang kaya dan tradisi suci Pura Dang Khayangan Cagar Budaya Pengukur-ukuran.

Asal Usul Kuno

Berdasarkan Prasati Pengukur-Ukuran bahwasannya Pura tersebut sebelumnya bernama “DHARMMA HANYAR”. Hal ini dapat diketahui dalam kalimat “MPUNGKWING DHARMMA HANAR” yang artinya “PENDETAKU DI DHARMMA HANYAR” yang bergelar Jiwaya (MAPANJI JIWAYA). Pada jaman pemerintahan Prabu Sri Astasura Ratna Bumi Banten pada awal abad ke-14 ada keturunan dari Arya Karang Buncing yang bernama Kebo Iwa (Kebo Taruna). Beliau melamar menjadi patih di kerajaan Bedahulu namun tidak diterima begitu saja tanpa melalui ujian kesaktian terlebih dahulu

Ukiran pura kuno dan artefak bersejarah
Ukiran pura kuno dan artefak bersejarah

Oleh karena kesaktian Kebo Iwa diukur di Dharmma Hanar, maka dari itulah tempat tersebut sekarang bernama Pura Pengukur-Ukuran dan menurut cerita rakyat, wilayah tempat tumpukan orang-orang yang kehilangan nyawa yang telah menguji kesaktiannya disebut Sawa Gunung dan hingga sekarang wilayah ini bernama Sawa Gunung

Wraspati Wage Pujut, Penanggalan Ping Lima Sasih Kawulu, Tahun 1116 Caka atau sekitar 12 Februari 1194. Dapat diindikasikan bahwasannya Pura Pengukur-Ukuran diperluas pada tahun 1116 Caka atau 1194 Masehi yang diresmikan atau diplaspas oleh Pedanda Ciwa Bergelar (Mapanji) Jiwaya atau Jiwajaya.